This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 07 November 2016



MAKALAH TASAWUF
“AKHLAK ISLAMI”
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tasawuf
Dosen Pengampu :Bapak Luthfi Zainudin, M. Pd. I





Disusun Oleh

Nur Latifah     (1501010096)


JURUSAN TARBIYAH/PAI/B/3

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN)JURAI SIWO METRO
TAHUN AKADEMIK 2016












KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

    Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, makalah Akhlak Islami dapat penulis selesaikan sebagaimana mestinya. Shalawat dan salam tak lupa kita kirimkan kepada Baginda Rasulullah SAW sebagai suri tauladan yang patut kita contoh.
          Dimana makalah ini penulis susun sebagai tugas mata kuliah Tasawuf yang diampu oleh Bapak Luthfi Zainudin, M. Pd. IMakalah ini membahas tentang Akhlak Islami.Agar mahasiswa dapat memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
      Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini, yang telah memberikan sumbangsihnya sehingga makalah ini bisa diselesaikan. Oleh karena itu, penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.     Bapak Luthfi Zainudin, M. Pd. I selaku dosen mata kuliah Tasawuf
2.     Teman-teman semua yang tergabung dalam kelas B.
          Semoga dengan adanya makalah ini dapat memberikan dampak positif bagi mahasiswa bukan saja dari segi kulit dan kertasnya tapi terutama pesan-pesannya.

            Wassalamuaikum Wr. Wb

                                                                        Metro,  September 2016


                                                                                    Penyusun










DAFTAR ISI

            HALAMAN JUDUL......................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................ ii
DAFTAR ISI...................................................................................... iii
                                           
BAB I.PENDAHULUAN.................................................................. 1
A.    Latar Belakang................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah............................................................ 1
C.     Tujuan Penulisan.............................................................. 2

BAB II.PEMBAHASAN.................................................................. 3
A.    Pengertian Akhlak Islami........................................ ......... 3
B.     Ruang Lingkup Akhlak Islami........................................... 5

BAB III.PENUTUP......................................................................... 16
A.Kesimpulan....................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………....13













BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
Kedudukan Akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang paling penting. Sebagai individu maupun kelompok masyarakat, sebab jatuh bangunnya masyarakat tergantung kepada bagaimana akhlaknya. Apabila Akhlaknya baik maka sejahteralah hidupnya, apabila akhlaknya buruk maka rusaklah lahir dan batinnya.
Kejayaan seseorang terletak pada akhlaknya yang baik, akhlak yang baik akan selalu membuat seseorang menjadi aman, tenang, dan tidak adanya perbuatan yang tercela. Seseorang yang berakhlak mulia akan selalu melakksanakan kewajibannya dengan baik dan benar.
Sesorang yang berakhlak buruk akan selalu menjadi sorotan bagi sesamanya. Selalu melanggar norma-norma yang berlaku dalam kehidupannya, penuh dengan sifat-sifat yang tercela, dan tidak pernah melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan benar, dengan demikian ini yang menyebabkan kerusakan system lingkungan
 .
B.                 Rumusan Masalah
Adapun Rumusan masalah sebagai berikut:
1.                  Apa yang dimaksud dengan akhlak Islami?
2.                  Apa ruang lingkup akhlak Islami?


C.                Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini selain dari menyelesaikan tugas mata kuliah Tasawuf yang diampu oleh Bapak Luthfi Zainudin, M. Pd. I, juga memberikan informasi kepada pembaca agar pembaca mengerti tentang pengertian pengertian akhlak Islami, Ruang lingkup akhlak Islami, dan perkembangan akhlak Islami di Indonesia.












BAB II
 PEMBAHASAN


A.                Pengertian Akhlak Islami
Secara sederhana akhlak Islami dapat diartikan sebagai akhlak yang berdasarkan ajaran Islam. Kata Islam yang berada di belakang kata akhlak dalam hal menempati posisi sifat.
            Dengan demikian akhlak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja mendarah daging, dan sebenarnya yang didasarkan pada ajaran Islam. Dilihat dari segi sifatnya yang universal, maka akhlak Islami juga bersifat universal. Namun, dalam rangka menjabarkan akhlak Islam yang universal ini diperlukan bantuan pemikiran akal manusia dan kesempatan social yang terkandung dalam ajaran etika dan moral.
            Dengan kata lain akhlak Islami adalah akhlak yang di samping mengakui adanya nilai-nilai universal sebagai dasar bentuk akhlak, juga mengakui nilai-nilai yang bersifat local dan temporal sebagai penjabaran atas nilai-nilai yang universal itu. Menghormati orang tua misalnya adalah akhlak yang bersifat mutlak dan universal. Sedangkan bagaimana bentuk dan cara menghormati kedua orang tua itu dapat dimanifestasikan oleh hasil pemikiran manusia yang dipengaruhi oleh kondisi dan situasi di mana orang yang menjabarkan nilai universal itu berada. Bagi orang Jawa misalnya menghormati orang tua dengan cara sungkem sambal menggelosor di lantai. Bagi orang Sunda menghormati orang tua dengan cara mencium tangannya. Dan bagi orang Sumatera, menghormati kedua orang tua dengan cara mememiharanya hidup bersama dengan anaknya. Selanjutnya bagi orang Barat berbuat baik kepada kedua orang tua mungkin dilakukan dengan memberikan berbagai fasilitas hidup dan sebagainya.
            Namun demikian, perlu ditegaskan di sini, bahwa akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika dan moral, walupun etika dan moral itu diperlukan dalam rangka menjabarkan akhlak yang berdasarkan agama (akhlak Islami). Hal yang demikian disebabkan karena etika terbatas pada sopan santun antara sesama manusia saja, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriah. Jadi ketika etika digunakan untuk menjabarkan akhlak Islami, itu tidak berarti akhlak Islami dapat dijabarkan sepenuhnya oleh etika dan moral.
            Akhlak (Islami) menurut Quraish Shihab lebih luas maknanya daripada yang telah dikemukakan terdahulu serta mencakup pula beberapa hal yang tidak merupakan sifat lahiriah. Misalnya yang berkaitan dengan sikap bati maupun pikiran.[1]
            Selanjutnya akhlak Islami dapat diartikan sebagai akhlak yang menggunakan tolok ukur ketentuan Allah.[2] Quraish Shihab dalam hubungan ini mengatakan, bahwa tolok ukur kelakuan baik mestilah merujuk kepada ketentuan Allah. Rumusan akhlak Islami yang demikian itu menurut Quraish Shihab adalah rumusan yang diberikan oleh kebanyakan ulama. Perlu ditambahkan, bahwa apa yang dinilai baik oleh Allah, pasti baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya, tidak mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik, karena kebohongan esensinya buruk.

B.     Ruang Lingkup Akhlak Islami
Ruang lingkup akhlak Islami adalah sama dengan ruang lingkup ajaran islam itu sendiri, khususnya yang berkaitan dengan pola hubungan. Akhlak diniah (agama/Islami) mencakup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada sesame makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda yang tak bernyawa).[3]Berbagai bentuk dan ruang lingkup akhlak Islami yang demikian itu dapat dipaparkan sebagai berikut.


1.      Akhlak Terhadap Allah
Akhlak terhadap Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk, kepada Tuhan sebagai Khalik. Sikap atau perbuatan tersebut memilki ciri-ciri perbuatan akhlaki sebagaimana telah disebut di atas.
Sekurang-kurangnya ada empat alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah. Pertama, karena Allah lah yang menciptakan manusia. Dia menciptakan manusia dari air yang ditumpahkan keluar  dari antara tulang punggung dan tulang rusuk (lihat QS Al-Thariq : 5-7). Dalam ayat lain Allah mengatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah yang kemudian diproses menjadi benih yang disimpan dalam tempat yang kokoh (Rahim), setelah ia menjadi segumpal darah, segumpal daging, dijadikan tulang dan dibalut dengan daging, dan selanjutnya diberi roh. (lihat QS Al-Mu’minun : 12-13). Dengan demikian, sebagai yang diciptakan sudah sepantasnya berterima kasih kepada yang menciptakannya.
Kedua, karena Allah lah yang memberikan perlengkapan panca indera, berupa pendengaran, penglihatan, akal pikiran, dan hati sanubari, di samping anggota badan yang kokoh dan sempurna kepada manusia (lihat QS Al-Nahl :78).
Ketiga, karena Allah-lah yang menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan ysng berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang ternak, dan sebagainya. (lihat QS Al-Jatsiyah :12-13).
Keempat, Allah-lah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan menguasai daratan dan lautan. (lihat QS Al-Isra : 70).
Namun demikian, sungguhpun Allah telah memberikan berbagai kenikmatan kepada manusia sebagaimana disebutkan di atas bukanlah menjadi alasan Allah perlu dihormati. Bagi Allah dihormati atau tidak, tidak akan mengurangi kemuliaan-Nya. Akan tetapi, sebagaimana manusia sudah sewajarnya menunjukkan sikap akhlak yang pas kepada Allah.
Banyak cara yang dapat dilakukan dalam berakhlak kepada Allah. Diantaranya dengan tidak menyekutukannya. (lihat QS Al-Nisa : 116), takwa kepada-Nya (QS Al-Nur : 35), mencintai-Nya (QS Al-Nahl : 72), ridho dan ikhlas terhadap segala keputusan-Nya dan bertaubat (QS Al-Baqarah : 222), mensyukuri nikmat-Nya (QS Al-Baqarah : 152), selalu berdo’a kepada-Nya (QS Al-Ghafir : 60), beribadah (QS Al-Dzariyat : 56), meniru-niru sifat-Nya, dan selalu berusaha mencari keridlaan-Nya (QS Al-Fath : 29).
Sementara itu, Quraish Shihab mengatakan bahwa titik tolak akhlak terhadap Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu, jangankan manusia malaikat pun tidak akan mampu menjangkaunya. Berkenaan dengan akhlak kepada Allah dilakukan dengan cara banyak memujinya (QS Al-Naml : 93, Ash-Shaffat : 159-160). Selanjutnya sikap tersebut dilanjutkan dengan senantiasa bertawakal kepada-Nya (QS Al-Anfal : 61), yakni menjadikan tuhan sebagai satu-satunya yang menguasai diri manusia. 

2.      Akhlak Terhadap Sesama Manusia
Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Qur’an berkaitan dengan perlakuan terhadap manusia. Petunjuk mengenai hal ini bukan hanya dalam bentuk larangan melakukan hal-hal negatif seperti membunuh menyakiti badan, atau mengambil harta tanpa alasan yang benar, melainkan juga sampai kepada menyakiti hati dengan jalan menceritakan aib seseorang di belakangnya, tidak peduli aib itu benar atau salah, walaupun sambal memberikan materi kepada yang disakiti hatinya itu. (lihat QS Al-Baqarah : 263).
Disisi lain Al-Qur’an menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukkan secara wajar. Tidak masuk ke rumah orang lain tanpa izin, jika bertemu saling mengucapkan salam. Dan ucapan yang dikeluarkan adalah ucapan yang baik (lihat QS Al-nur :58, Al-Baqarah : 83). Setiap ucapan yang diucapkan adalah ucapan yang benar (QS Al-Ahzab : 70), jangan mengucilkan seseorang atau kelompok lain, tidak wajar pula berprasangka buruk tanpa alasan, atau menceritakan keburukan seseorang, dan menyapa atau memanggilnya dengan sebutan buruk. (QS Al-Hujurat 11-12). Selanjutnya yang melakukan kesalahan hendaknya dimaafkan. Pemaaf ini hendaknya disertai dengan kesadaran bahwa yang memaafkan berpotensi pula melakukan kesalahan. (lihat QS Ali ‘Imran : 134). Selain itu dianjurkan agar menjadi orang yang pandai menegndalikan nafsu amarah, mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan Anda sendiri.

3.      Akhlak Terhadap lingkungan
Yang dimaksud dengan lingkungan di sini adalah segala sesuatu yang di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa.
Pada dasarnya akhlak yang diajarkan Al-Qur’an terhadap lingkungan bersumber dari fungsi manusia sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan mengandung arti pengayoman, pemeliharaan, serta bimbingan, agar setiap makhluk mencapai tujuan penciptaannya.
Dalam pandangan Islam, seseorang tidak dibenarkan mengambil buah sebelum matang, atau memetic bunga sebelum mekar, karena hal ini berarti tidak memberi kesempatan kepada makhluk untuk mencapai tujuan penciptaannya.
Ini berarti manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses yang sedang berjalan, dan terhadap semua proses yang sedang terjadi. Yang demikian mengantarkan manusia bertanggung jawab, sehingga ia tidak melakukan perusakan, bahkan dengan kata lain, setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada diri manusia sendiri.
Binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda benda tak bernyawa semuanya diciptakan oleh Allah Swt, dan menjadi milik-Nya, serta semuanya memiliki ketergantungan kepada-Nya. Keyakinan ini mengantarkan seorang Muslim untuk menyadari bahwa semuanya adalah “umat” Tuhan yang harus diperlakukan secara wajar dan baik.
Berkenaan dengan hal ini dalam Al-Qur’an surat Al-An’am : 38 ditegaskan bahwa binatang melata dan burung-burung pun adalah umat seperti manusia juga, sehingga semuanya seperti ditulis al-Qurthubi (w.671 H.) dalam tafsirnya “tidak boleh diperlakukan secara aniaya”
Jangankan dalam masa damai, dalam saat peperangan pun terdapat petunjuk Al-Qur’an yang melarang melakukan penganiayaan. Jangankan terhadap manusia dan binatang, bahkan mencabut dan menebang pepohonan pun terlarang, kecuali kalua terpaksa, tetapi itu pun harus seizin Allah, dalam arti harus sejalan dengan tujuan-tujuan penciptaan dan demi kemaslahatan terbesar. Allah berfirman: (QS Al-Hasyr :5).
Alam dengan segala isinya telah ditundukkan Tuhan kepada manusia, sehingga dengan mudah manusia dapat memanfaatkannya. Jadi demikian, manusia tidak mencari kemenangan, tetapi keselarasan dengan alam. Keduanya tunduk kepada Allah, sehingga mereka harus dapat bersahabat.
Selain itu akhlak Islam juga memerhatikan kelestarian dan keselamatan binatang. Nabi Muhammad Saw bersabda:
“Bertakwalah kepada Allah dalam perlakuanmu terhadap binatang, kendarailah, dan beri makanlah dengan baik.”
Uraian tersebut di atas memperlihatkan bahwa akhlak Islami sangat komprehensif, menyeluruh dan mencakup berbagai makhluk yang diciptakan Tuhan. Hal yang demikian dilakukan karena sangat fungsional seluruh makhluk tersebut satu sama lain saling membutuhkan. Punah dan rusaknya salah satu bagian dari makhluk Tuhan itu akan berdampak negatif bagi makhluk lainnya.
Dengan demikian, akhlak Islami itu jauh lebih sempurna dibandingkan dengan akhlak lainnya. Jika akhlak lainnya hanya berbicara tentang hubungan dengan manusia, maka akhlak Islami berbicara pula tentang cara berhubungan dengan binatang, tumbuh-tumbuhan, air, udara, dan lain sebagainya. Dengan cara demikian, masing-masing makhluk akan merasakan fungsi dan eksistensinya di dunia ini.[4]











BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari uraian makalah di atas dapat disimpulkan bahwa akhlak Islami adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah, disengaja mendarah daging, dan sebenarnya yang didasarkan pada ajaran Islam. Dilihat dari segi sifatnya yang universal, maka akhlak Islami juga bersifat universal. Ruang lingkup akhlak Islami ada tiga yaitu akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap sesame manusia, dan akhlak terhadap lingkungan.





















DAFTAR PUSTAKA


Nata,Abuddin,Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: raja grafindo persada, 2015)

Shihab,M.Quraish, wawasan Al-Qur’an, (Bandung : Mizan, 1996)


[1]M.Quraish Shihab, wawasan Al-Qur’an, (Bandung : Mizan, 1996), cet.III, hlm.261
[2]Ibid, hlm. 205
[3]Ibid, hlm.261
[4] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: raja grafindo persada, 2015) cet.xIv, hlm. 131